Zoe, Memadukan Taman Bacaan dan Hiburan
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/19/pustaka/3998216.htm
BI PURWANTARI
Seorang anak laki-laki usia SD duduk di lantai kayu berwarna hitam sambil bersandar pada sebuah rak tinggi yang dipenuhi pajangan beragam komik. Tangannya asyik membuka halaman demi halaman komik Avatar yang saat ini serial filmnya sedang diputar di salah satu stasiun televisi swasta.
Selesai membaca Avatar, tangannya segera meraih komik Spongebob Squarepants, tokoh kartun lucu yang hidup di dalam laut bersama teman-temannya: Squidward, si cumi-cumi; tuan Crabb, kepiting pemilik rumah makan; serta Patrick Star, si bintang laut. Tak sampai sepuluh menit kemudian, ia kembali meraih komik lainnya, kali ini komik Si Kancil yang Cerdik. Cerita lokal ini dibacanya dengan tekun hingga habis dua judul, sama sekali tidak terusik oleh lalu lalang orang-orang yang ada di sekitarnya.
Di ruangan berbeda, sepasang remaja tampak duduk di sebuah sofa panjang sambil berbincang dan memandangi buku bergambar yang dipegang si remaja laki-laki. Mereka membalik-balik lembar demi lembar halaman buku sambil sesekali menyeruput secangkir cappuccino dan jus jeruk. Semenit kemudian, seorang pelayan menghampiri meja mereka sambil menyodorkan sepiring makanan. Suasana siang yang agak panas terasa lebih sejuk oleh semilir angin yang berembus memasuki ruangan kafe dengan interior setengah terbuka.
Tempat itu bernama Zoe, Zone of Edutainment. Letaknya di pinggir Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Seperti namanya, Zone of Edutainment, Zoe berupaya menawarkan konsep taman bacaan sebagai sarana pendidikan, sekaligus tempat hiburan. Area berukuran 180 x 3 meter itu memiliki desain bangunan yang membuat pengunjung nyaman untuk memuaskan hobi membaca maupun sekadar bercakap-cakap dengan teman sambil menyeruput minuman segar ataupun menikmati kudapan lezat.
Koleksi lengkap
Koleksi komik yang cukup lengkap—baik komik yang populer pada tahun 1970-an, seperti serial Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH, karya-karya Yan Mintaraga, maupun komik-komik impor keluaran Marvel dan DC, karya-karya Tony Wong, hingga komik manga (Jepang) yang mendominasi pasaran saat ini—persediaan berbagai novel untuk remaja ataupun genre pop-science; serta harga buku yang diklaim oleh pengelolanya lebih rendah dari toko buku biasa, membuat Zoe didatangi baik oleh para pelajar, mahasiswa, maupun pekerja kantoran. Di sini mereka bisa menjadi anggota perpustakaan dan menyewa beragam buku dengan membaca di tempat ataupun dibawa pulang serta membeli buku dengan harga diskon.
Dengan konsep library- shop-cafe, Zoe tidak sekadar menyediakan ruang untuk membaca. Di lahan yang cukup luas juga terdapat kafe dua lantai semi-terbuka dengan menu bervariasi dan tentunya harga terjangkau, terutama untuk kantong mahasiswa. Mereka dapat mencicipi beberapa jenis menu, baik Eropa, Asia, hingga makanan untuk lidah lokal, seperti ayam betutu asli Bali atau soto betawi. Anggota sendiri juga mendapat fasilitas gratis makan-minum di kafe saat mereka berulang tahun, sekaligus mendapatkan buku senilai Rp 25.000.
Pencinta komik
Ide awalnya adalah menyediakan taman bacaan bagi mahasiswa. Sebagian dari empat pemilik Zoe memiliki hobi membaca sejak kecil. Begitu banyak koleksi buku mereka sehingga mencapai beberapa lemari, terutama komik dan novel. Ini mendorong mereka untuk berbagi dengan orang lain, sekaligus membidiknya sebagai peluang usaha. Dengan menyewa dua ruangan, satu ruang baca dan satu lagi ruang menyimpan buku, mulailah mereka membuka taman bacaan. Bandung adalah kota pertama tempat Zoe beroperasi.
Tak dinyana, animo pengunjung terus meningkat. Semakin banyak buku yang disediakan, semakin banyak pembaca yang datang. Lebih jauh, target yang mulai diterapkan selalu bisa terlampaui. Para pengunjung itu betah berlama-lama membaca sehingga ruangan yang ada tidak mampu lagi menampung.
Melihat perkembangan itu, mulailah mereka mengontrak sebuah rumah dan membangunnya, bahkan pemilik rumah akhirnya ikut bergabung. Setelah tujuh tahun berjalan, Zoe Corner di Jalan Pager Gunung, Bandung, hampir-hampir tak pernah sepi. Para anggota biasanya datang meminjam setumpuk buku untuk dibaca agar tidak bolak-balik meninggalkan tempat duduk karena khawatir akan ditempati orang lain.
Melihat keberhasilan itu, tebersit gagasan untuk membuka lebih banyak lagi taman bacaan bagi mahasiswa. Kota Depok yang dikelilingi banyak perguruan tinggi maupun sekolah menjadi pilihan yang masuk akal. Meskipun demikian, di antara kedua kota itu terdapat perbedaan karakter. "Di sini kebanyakan penyewa membawa pulang buku-buku yang dipinjam. Barangkali karena mobilitas orang-orang di sini lebih tinggi. Sementara di Bandung orang lebih senang membaca berjam-jam di tempat," tutur Erman, direktur sekaligus salah seorang pemilik Zoe. Karena itu, taman bacaan di Depok didesain semi-terbuka dan dilengkapi kafe agar mereka yang datang merasa seolah-olah membaca di halaman rumah sambil menikmati makanan atau minuman.
Setelah setahun tiga bulan berjalan, sejak 30 Juni 2006, Zoe Depok berhasil menjaring 3.100 anggota. Meskipun 80 persen anggota adalah mahasiswa dan pelajar, ada pula yang berasal dari pekerja kantoran maupun satu keluarga. Seperti Alina yang bekerja di salah satu bank swasta asing dan tinggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta, mengaku kerap menyambangi Zoe bersama teman-teman kantornya. "Tempatnya cozy buat kumpul-kumpul, menunya juga beragam, dan koleksi novelnya cukup banyak," urainya menjelaskan alasan ia tidak bosan datang ke Zoe.
Menurut Erman, bahkan ada pekerja kantoran yang tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara, datang ke Zoe untuk meminjam komik. "Biasanya dia pinjam langsung banyak, bisa satu tas sendiri," paparnya.
Sebagian besar anggota Zoe adalah penggemar komik. Mereka tahu komik-komik baru atau yang lama. Karena itu, Zoe berusaha selalu memperbarui koleksinya. Bahkan, ada juga anggota yang mencari serial Kho Ping Ho sehingga di ruang tengah tempat beragam komik diletakkan terdapat satu deret rak yang berisi seri cerita silat karya almarhum Asmaraman S Kho Ping Ho ini. Pengelola Zoe pernah mendapat komik serial Si Buta dari Goa Hantu cetakan pertama, asli dengan ejaan bahasa Indonesia lama. "Ada anggota kami yang membelinya, padahal harganya mencapai jutaan rupiah," urai Erman.
Upaya Zoe memuaskan kegemaran membaca anggotanya bisa dibilang tidak main-main. Para pengelola terus mencari koleksi buku atau komik, baik baru maupun lama, seperti di pasar buku Palasari di Bandung dan daerah Senen atau Kwitang, Jakarta. Untuk memastikan setiap anggota yang datang mendapatkan yang diinginkan, setiap judul buku disediakan tujuh eksemplar atau paling sedikit tiga, kecuali serial Kho Ping Ho yang hanya satu buku setiap judul. Selain itu, Zoe turut memfasilitasi penerbit-penerbit komik Indie, penerbit di luar arus utama, dengan menyelenggarakan bengkel kerja (workshop) dan diskusi tentang pembuatan komik. Acara ini bekerja sama dengan komunitas komik Akademi Samali dan seorang pengamat komik, Hikmat Darmawan.
Buku dan kafe
Konsep memadukan buku dengan kafe dilakukan Zoe di Bandung dan Depok. Namun, di dua tempat itu terdapat perbedaan. Ini bisa dilihat dari proporsi pendapatan yang diperoleh Zoe. Di Depok, dari pemasukan total rata-rata Rp 200 juta per tahun, 80 persen berasal dari kafe dan sisanya dari buku. Sebaliknya, 70 persen pendapatan terbesar di Bandung adalah dari buku.
"Di sini ada istilah ’yuk kita makan ke Zoe’. Mereka memang datang hanya untuk makan dan minum," papar Erman lebih jauh. Untuk itulah Zoe menciptakan beragam menu makanan dan minuman serta berbagai pilihan paket lainnya. Di samping itu, beberapa kali Zoe bekerja sama dengan penerbit atau penulis buku menyelenggarakan acara yang berkaitan dengan buku, seperti book launching maupun bedah buku. Pada saat itu, biasanya Zoe menyediakan tempat lengkap dengan pengeras suara tanpa dipungut bayaran. "Timbal baliknya, para tamu akan makan dan minum di sini dengan membayar," ujar Erman lagi.
Beberapa program yang pernah diadakan di situ menyedot cukup banyak pengunjung. Misalnya saat ada acara mendongeng untuk anak-anak, seluruh ruangan—baik kafe maupun perpustakaan—disesaki peserta anak-anak beserta orangtua mereka. Atau acara lomba mewarnai untuk sekolah dasar. "Kami sampai bingung harus bagaimana menempatkan anak-anak itu saking penuhnya," cerita Erman yang tinggal di Bogor ini.
Fasilitas lain yang disediakan bagi para anggota adalah jasa pembelian buku, terutama buku-buku pelajaran atau diktat kuliah. Beberapa kali sekitar 15 mahasiswa minta kepada pengelola Zoe untuk dicarikan buku keluaran penerbit tertentu. Dari penerbit biasanya diberikan rabat 40 persen dari price list (daftar harga). Zoe mengurangi porsi rabatnya 10 persen dan diberikan kepada anggotanya. "Kadang kala malah buku pelajaran yang dicari itu hanya diberikan rabat 10 persen dari penerbit. Ya, kami tetap memberikan diskon 10 persen itu kepada mereka. Kami tidak mendapat apa-apa, hanya memberi jasa membelikan itu tadi," katanya.
Lain lagi cerita Zoe Corner di Bandung. Menurut Erman, porsi terbesar pendapatan dari buku sudah terlihat dari ruang baca yang selalu terisi penuh. Bahkan, ada orangtua yang anak-anaknya biasa datang ke Zoe sepulang sekolah, menyetorkan sejumlah uang sebagai deposit untuk sewa buku maupun biaya makan di sana. "Ibu anak itu biasanya menelepon, menanyakan apakah masih ada uang depositnya. Kalau sudah habis, dia setor lagi," papar Erman yang membawahi 43 karyawan dengan dua gilir kerja di Zoe Depok ini.
Usaha menggabungkan edukasi dan hiburan ini tampaknya mulai dilirik oleh pengusaha lokal lain. Menurut Erman, sudah ada permintaan dari Garut dan Semarang untuk membeli franchise-nya. Namun, para pemilik Zoe masih akan mempertimbangkannya. "Sebenarnya kami senang kalau semakin banyak orang yang membuka taman bacaan seperti ini. Tetapi, kami harus menghitung secara bisnis juga," katanya.
Tentunya, semua peluang untuk meningkatkan minat baca masyarakat umumnya dan generasi muda khususnya harus terus diupayakan terwujud. Apalagi di tengah kondisi di mana banyak anak muda terlibat kegiatan yang memberhalakan budaya kekerasan. (BI Purwantari/ Litbang Kompas)